Pencetus Batik SBY, Ahmat Failasuf !

posted in: Company Profil | 0
Sumber : Batik Pesisir Failasuf

Di Kota Pekalongan, nama perajin batik “H. A. Failasuf” terbilang sangat kondang. Failasuf adalah owner dari brand “Batik Pesisir” yang juga berjasa membangkitkan industri batik Pekalongan. Ia pun mempromosikan batik dengan cara unik, yakni membuat mode batik dengan nama Presiden yaitu Batik SBY. Klik disini Sejarah Batik SBY.

Keahlian membatik yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya membawa Failasuf mencetak banyak prestasi. Misalnya saja, Failasuf berjasa membangkitkan lagi bisnis batik di Kemplong – Wiradesa, desa kelahirannya. Alhasil, pada 2007 silam, Menteri Perdagangan meresmikan desa yang terletak di Pekalongan ini sebagai Desa Sentra Batik. Failasuf pun didaulat menjadi ketua paguyuban masyarakat batik di sana.

Failasuf dikenal kreatif dalam mempromosikan batik. Ia menciptakan mode batik yang ia namai sesuai nama Presiden yang sedang menjabat saat itu. Misalnya ketika Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjabat, ia memperkenalkan batik Jogja yang juga disebutnya batik Gus Dur. Saat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden, ia merilis batik SBY. Langkah Failasuf sukses. Batik bikinan pria berusia 34 tahun ini laris manis. Bahkan, Ani Yudhoyono sempat memborong batik SBY bikinannya. “Saya sangat bangga,” tutur pemuda asli Pekalongan ini.

Failasuf mengaku tertarik mengembangkan batik sejak kecil. Apalagi, orangtuanya juga perajin batik. Ia pun sudah bertekad meneruskan usaha batik ayahnya sejak masih kecil. “Makanya saya pilih jurusan ekonomi,” kisah anak pertama dari tujuh bersaudara ini. Selain itu, sejak masih muda Failasuf sudah belajar mandiri. Untuk membiayai kuliahnya, pria kelahiran 5 Maret 1975 ini menjual batik bikinan sang ayah, yang berlabel Batik Kusuma Asih. Dagangannya ternyata laris. Saat itu, di tahun 1995, Failasuf bisa mengumpulkan laba antara Rp 1 juta – Rp 2 juta per bulan.

Setelah mendapat gelar Sarjana Ekonomi pada 1999, ayah dari dua anak ini langsung menekuni bisnis batik dengan serius. “Saya sengaja tidak mengambil ijazah saya, soalnya kalau saya ambil saya jadi PNS,” ujarnya tergelak. Dengan modal ilmu serta pengetahuan cara membuat batik, Failasuf mendirikan Batik Pesisir. “Modalnya Rp 7 juta dari hasil tabungan saya jualan batik selama kuliah,” kisahnya.

Failasuf menggunakan modal itu untuk membeli bahan dan peralatan membatik. Ia memulai usaha dengan bantuan lima karyawan. Sebagai lulusan fakultas ekonomi, Failasuf paham betul agar bisa sukses memasarkan produknya, ia harus fokus pada satu segmen tertentu. Failasuf memilih menyasar segmen papan atas.

Awal mulai berusaha, Failasuf sering mendapat cemoohan. “Karena saya memulai bisnis di saat krisis,” terangnya. Tapi Failasuf selalu berpikir positif. Ia menganggap krisis justru sebagai peluang. Selain itu, ia merasa model batik yang dijualnya bukan model pasaran. Failasuf membuat batik berbahan dasar sutera. Ia memakai motif Java Hokokai, motif yang dibuat perajin di masa pendudukan Jepang. Ciri motif itu adalah gambar kupu-kupu dengan warna yang berbinar terang.

Nyatanya, batik Failasuf laris. Awalnya, Failasuf hanya bisa memproduksi 15 potong baju batik per bulan. Kini, dengan jumlah pekerja 300 orang, ia bisa membuat 1.000 potong batik per bulan. “Omzet saya mencapai miliaran rupiah per bulan,” ucapnya sumringah. Kreatif menciptakan ide-ide batik Sebagai anak bawang dalam bisnis batik Pekalongan, Failasuf tergolong kreatif menciptakan ide-ide batik kontemporer. Salah satu cara yang ia tempuh agar batiknya dikenal masyarakat adalah dengan menggandeng desainer kondang Adjie Notonegoro. Dari situ, omzet penjualan Batik Pesisir Failasuf terus membengkak.

Sebagai lulusan fakultas Ekonomi Unversitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Failasuf tahu betul bagaimana cara memasarkan produknya. Pertama-tama, ia harus yakin bahwa produknya tersebut memang bernilai. “Saya mau terjun ke dunia batik karena yakin betul dengan potensi batik,” beber pria kelahiran tahun 1975 ini. Failasuf yakin akan hal ini lantaran ia melihat potensi sumber daya perajin batik yang luar biasa jumlahnya di Pekalongan.

Selain itu, Failasuf menilai, batik Pekalongan punya motif yang unik ketimbang motif batik keraton Yogyakarta atau Solo. Motif batik Pekalongan adalah motif pesisiran yang kaya akan flora dan fauna serta kaya warna. “Itulah sebabnya, usaha batik saya dinamakan Batik Pesisir agar orang selalu ingat Batik Pesisir Pekalongan,” imbuhnya. Menurut Failasuf, motif pesisiran banyak terinspirasi dari pengaruh cerita tempo dulu. Misalnya saja ada batik Belanda.

Ciri motifnya berupa lukisan perang melawan Kompeni, atau bunga-bunga khas Belanda. Ada juga batik China dengan warna merahnya yang khas. Akan tetapi, motif paling eksklusif bagi Failasuf adalah motif Java Hokokai. Motif ini menceritakan tentang pengaruh pendudukan tentara Jepang di Indonesia. “Cirinya yaitu warnanya lebih beragam dengan gambar kupu-kupu yang bersinar,” ujar Failasuf. Motif itu menjadi eksklusif bagi Failasuf karena dengan motif inilah Failasuf dengan berani mendatangi desainer kenamaan Adjie Notonegoro untuk menawarkan kerjasama untuk membuat batik khas Yogyakarta, yang didominasi warna coklat.

Padahal ketika itu, Failasuf baru genap setahun mendirikan Batik Pesisir. “Saya namakan batik tersebut batik Gus Dur,” ujarnya. Bak gaung bersambut, Adjie ternyata menerima tawaran kerjasamanya. Penjualan Failasuf selama dua tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 menjadi meningkat. Bahkan, hasil karyanya pernah dipamerkan dalam KTT ASEAN kesembilan di Bali pada tahun 2001. Pencapaian Failasuf terhitung luar biasa. Bayangkan saja, ketika memulai usaha batik Pesisirnya tahun 1999, modal bapak dua anak ini hanya sebesar Rp 7 juta. Setahun kemudian, setelah ia menjalin kerjasama dengan Adjie Notonegoro, omzetnya pun meningkat lima kali lipat. “Sebulan omzet penjualan saya jadi sekitar Rp 50 juta,” beber Failasuf. Failasuf membanderol satu helai kemeja batik sutra buatannya seharga Rp 300.000 sampai Rp 500.000. “Dari harga tersebut, keuntungan saya sudah 100% dari modal,” kenangnya.

Mulai tahun 2004, Failasuf rajin mengikuti pameran-pameran baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk meningkatkan omzetnya serta menggaet lebih banyak pelanggan. Kegiatan berpameran, Failasuf sering mendapat dukungan dari Departemen Koperasi, Disperindag Pekalongan, dan juga Pemda Kabupaten Pekalongan. “Namun sekarang, saya sering ikut pameran secara swadaya,” katanya. Pameran sangat membantu penjualannya. Ia mengaku, dari satu kali pameran bisa meraih omzet jutaan. Walaupun, ia juga harus mengeluarkan uang banyak untuk biaya pameran tersebut. 

Menerapkan berbagai strategi Pada saat industri kerajinan lainnya kolaps terhantam imbas krisis global, Failasuf dengan merek Batik Pesisirnya bisa terus bertahan. Berbagai strategi ia terapkan sehingga permintaan dari pasar lokal atas batik Pekalongan buatannya terus meningkat. Beberapa kali tertipu oleh calon pembeli malah membuat Failasuf semakin semangat mendalami bisnis batik. Ia mengaku tetap berpatokan pada prinsip ekonomi pasar yang benar dan selalu membuat inovasi yang kreatif untuk menciptakan trend.

“Ke depan, persaingan batik bukan lagi antar daerah, tetapi sudah antar perajin atau desainer,” ramal bapak dua anak ini. Dari ide kreatif Failasuf, muncullah Batik SBY. Ide ini muncul berdasarkan kegaguman Failasuf atas sosok presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasalnya, sang presiden sangat suka mengenakan batik dengan motif lurus. Kebiasaan ini diikuti oleh para bawahannya. “Sebagai pengusaha batik, kami tersanjung melihat pemimpin kami menghargai dan menghormati batik,” cetusnya.

Khusus untuk menghormati SBY itulah, Failasuf menciptakan batik SBY dengan motif lurus. Di bagian tengah dada ada motif parang yang warnanya berbeda dengan warna bagian lainnya. Namun, secara keseluruhan, paduan warna Batik SBY hanya dua warna saja. Batik SBY juga semakin menaikkan pamor batik, karena banyak pejabat yang kemudian berlomba mengenakan batik sebagai busana resmi di samping busana safari. Imbasnya, industri batik pun makin bergairah lantaran permintaan yang semakin meningkat. “Sekarang batik menjadi idola, kalau kecintaan masyarakat akan batik tinggi, pasti Malaysia tidak berani klaim,” canda Failasuf. Dengan tren baru yang diciptakannya, Failasuf bebas melenggang di saat krisis. Bahkan, permintaan produknya terus meningkat. “Untuk memenuhi pesanan, saya buka showroom di Tebet dan di Mal UKM di gatot Subroto, Jakarta,” jelasnya. Dalam sebulan, Failasuf yang memiliki 300 karyawan memproduksi sekitar 1.000 helai kemeja batik. Dari jumlah tersebut, 90% terserap untuk pasar lokal seperti Jakarta dan Bali. Sementara 10%-nya diekspor ke Jepang dan Malaysia.

Failasuf mengaku terus berusaha untuk menciptakan motif-motif batik yang baru agar bisa menggairahkan bisnis batik di Pekalongan, terutama di desa Kemplong, Wiradesa, yang merupakan sentra batik di Pekalongan. “Yang menggembirakan, kebanyakan perajin batik Pekalongan adalah generasi muda,” ujar pebisnis yang juga menjadi Ketua Paguyuban Perajin Batik di Wiradesa ini.

Kepada para perajin batik sejawatnya di Wiradesa, Failasuf sering mengajarkan untuk mengadakan kolaborasi dengan para desainer lokal. Sayangnya, para desainer lokal banyak yang mempunyai manajemen keuangan yang buruk. “Ada-ada saja kurangnya, ketika masuk waktunya pembayaran,” keluh Failasuf. Sehingga, kini, Failasuf dan rekan-rekan perajin batiknya lebih suka mendesain sendiri kemeja batiknya. “Saya memang harus banyak membaca dan mempelajari sejarah batik serta tren-tren fashion atau tren warna saat ini,” ujarnya. Saat ini, Failasuf juga sedang gencar mengedukasi pasar akan batik. Misalnya saja mengenai perbedaan batik printing dan batik cap atau tulis. Banyak orang masih tidak tahu perbedaan jenis-jenis batik tersebut. “Makanya banyak oknum yang mencoba memanfaatkan ini, mereka jualan batik printing tetapi bilangnya batik tulis,” cetusnya. Padahal di dunia batik, hanya ada  dua macam cara membuat batik, yaitu dengan tulisan dan cap saja. “Konsumen harus hati-hati,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *