Makna Dibalik Batik Motif Sawunggaling

Makna Dibalik Batik Motif Sawunggaling

Pola batik Sawunggaling lahir setelah kemerdekaan Indonesia melalui tangan Go Tik Swan (KRT  Hardjonegoro). Presiden Soekarno meminta beliau untuk menciptakan batik Indonesia atau juga dikenal sebagai batik Republik. Konon Sawunggaling diciptakan berdasarkan dua regalia Raja Raja Jawa yang berwujud Sawung ( ayam jantan ) dan Galing ( merak jantan). Suatu saat Go Tik Swan secara tidak sengaja melihat corak burung pada kain prada yang dikenakan Raja Karang Asem, Bali, Gusti Jelantik. Terinspirasi dengan konsep regalia Raja Jawa, konsep spiritual sabung ayam, dan corak Gusti Jelantik, Go Tik Swan menceritakan idenya kepada Ngabehi Atmosupomo, seorang Empu penatah wayang, sehingga lahirlah pola Sawunggaling.

“SAWUNGGALING” mendapat kehormatan sebagai bagian terakhir dari trilogy perayaan 25 tahun Didi Budiardjo berkarya. Berbicara tentang simbol, motif adalah lambang yang bercerita tentang sesuatu. Sawunggaling adalah perlambang kemenangan, yang senantiasa memperbaharui diri, sama seperti fashion yang selalu berevolusi. Oleh Go Tik Swan, motif ini mulai dikenal luas dikarenakan motifnya yang menyerupai burung Phoenix yang sedang berhadapan. Dalam penataan Cina kuno, burung ini dipercaya dapat menduplikasi dirinya. Arti dari motif ini sendiri melambangkan keindahan, kekuatan, dan ketegaran.

Motif batik ini juga pernah dipakai keluarga Bapak SBY. Istri Presiden ke-6 Republik Indonesia itu memesankan batik bermotif burung sawunggaling di Batik Pesisir Ahmat Failasuf untuk keluarganya pakai saat lebaran tahun 2019.

Namun, takdir berkata lain. Kain berwarna gelap itu nyatanya dipakai untuk menutup jenazah Ani saat masih berada di National University Hospital. Batik itu kemudian dipakai keluarga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat berziarah ke makam Ani pada hari pertama lebaran, Rabu (5/6/2019). Semula SBY tidak mengetahui makna dari motif sawunggaling pada batik tersebut. Namun, setelah Ani wafat, ia baru mengetahui bahwa makna motif tersebut ialah sebuah burung yang terbang ke surga.

Awalnya SBY sempat bingung dengan pesan tersebut karena Ani masih harus menggunakan berbagai peralatan kesehatan di tubuhnya. Hal ini menyulitkannya untuk mengenakan kebaya dan menyarankan agar Ani tidak perlu mengenakan batik, cukup SBY, anak-anak, menantu dan cucunya saja untuk berfoto keluarga saat Lebaran.Kain batik tersebut selesai dijahit dalam 1-2 minggu. Tetapi, masih ada satu kain batik yang tersisa untuk Ani Yudhoyono. Ternyata Tuhan memiliki tujuan lain, batik yang tersisa itu tetap digunakan Ani. Namun, bukan sebagai pakaian tapi sebagai penutup jenazahnya.

Nah itulah sedikit cerita tentang makna batik motif sawunggaling yang pernah dipakai keluarga Bapak SBY dan dipakai sebagai penutup jenazah Ibu Ani. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan